Di penghujung level, aliran rasa
merupakan bentuk evaluasi saya pada apa yang sudah kami kerjakan selama game
level 4. Memahami gaya belajar anak merupakan hal yang penting agar kita mampu
membentuk lingkungan belajar yang sesuai dengan anak. Saya mengevaluasi apa
yang telah dilakukan, bagaimana tanggapan anak-anak, ciri gaya belajar apa yang
muncul, bagaimana perasaan anak-anak ketika belajar, apa saja yang dapat
dipelajari anak, dan bagaimana lingkungan belajar yang diinginkan anak untuk
pembelajaran selanjutnya. Berikut review kegiatan kami selama level 4.
Resume Kegiatan T10
Proyek untuk belajar kali ini adalah
mengenalkan hewan sekitar dengan berbagai media. Tidak hanya menjadi
fasilitator, kali ini nda juga berperan sebagai observer untuk mengamati gaya
belajar mas dan adek. Cara untuk mengetahui tipe gaya belajar anak adalah
dengan melakukan pengamatan atau observasi dari berbagai macam aktivitas anak.
Kita identifikasi ciri-ciri dominan apa yang teramati dari anak dan direkap
pada tabel. Di akhir pembelajaran kita
akan tahu, gaya belajar tipe apa ya Mas dan Adek.
Kegiatan belajar ini dirancang dengan
menggunakan berbagai media. Mas dan adek akan berinteraksi dengan media, dan
nda akan mengamati bagaimana ciri belajar yang muncul.
No
|
Aktivitas
|
Media
|
1
|
Kenalan dengan
kucing yuk!
|
Kucing asli
|
2
|
Menebak nama hewan
|
Buku kartu hewan
|
3
|
Ayo kenalan dengan
Laron!
|
Laron asli
|
4
|
Ayo pancing ikan!
|
Kolam pancing,
replica ikan, pancing
|
5
|
Ikan, yuk makan
|
Ikan asli, pakan
ikan
|
6
|
Tandai yang
manakah aku?
|
Worksheet Gambar
berbagai hewan, pensil
|
7
|
Tebak suara
|
Rekaman suara
hewan
|
8
|
Meniru gerakan
hewan
|
Bergerak seperti
hewan
|
9
|
Berburu serangga
|
Worksheet, pensil
|
10
|
Membaca adalah
pintu kemana saja
|
Buku cerita
|
Penggunaan berbagai media ini berperan untuk menstimulasi
belajar anak secara visual, auditori, dan kinestetik. Beberapa aktivitas
dirancang hanya menggunakan media yang menstimulasi satu gaya belajar saja
untuk mengetahui interaksi dan modifikasi anak terhadap media. Ternyata
walaupun kita menggunakan satu media, anak usia balita masih belum bisa kita “minta”
untuk menggunakan itu saja tanpa ada tambahan yang lain. Misalnya, saya hanya
menggunakan buku cerita dengan harapan melihat bagaimana jika anak dihadapkan
pada media visual. Anak balita tetap minta didampingi untuk diceritakan isi
bukunya, ditirukan suara hewan didalamnya, dan anak mempraktekkan gambar di
buku. Anak justru lebih kreatif menggunakan media untuk melakukan lebih banyak
kegiatan sehingga mereka bergerak aktif dengan melibatkan semua indera.
Pengamatan gaya belajar 10 hari pada Mas
Ozi memperlihatkan bahwa gaya belajar mas Ozi lebih dominan ke kinestetik.
Namun, ketika Nda mencoba mengkondisikan belajar dengan gaya auditori, maka Mas
Ozi juga mengarah ke auditori. Begitu juga jika menggunakan tiga gaya belajar,
maka hasilnya akan menunjukkan ketiga gaya belajar. Untuk gaya visual, paling
tidak nampak. Hal tersebut mengindikasikan agar lingkungan belajar yang
disajikan nanti menggunakan berbagai media yang bias memfasilitasi berbagai
gaya belajar dengan mengutamakan gaya belajar kinestetik.
Pengamatan gaya belajar pada Adek
memperlihatkan bahwa gaya belajar Adek lebih dominan ke auditori. Apapun
kondisi belajar yang disajikan, Adek menunjukkan gaya belajar auditori dan
kinestetik. Ciri gaya visual hanya nampak satu kali. Hal ini memperlihatkan
bahwa adek lebih senang belajar dengan bergerak dan mendengarkan. Hal tersebut
dimungkinkan karena Adek belum bisa fokus belajar dengan duduk.
Belajar dan Gaya
Belajar
Piaget merupakan tokoh pendidikan dengan dua teori yang
terkenal yaitu teori perkembangan kognitif dan konstruktivisme (suparno, 2000).
Menurut Piaget seseorang akan mengalami perkembangan kognitif dalam 4 tahap
yaitu 1) tahap sensori motor yaitu Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari
kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana dengan rentang usia dari lahir
sampai usia 2 tahun, 2) tahap praoperasional yaitu penggunaan symbol atau
bahasa tanda dengan rentang usia 2 - 4 tahun dan dapat memperoleh pengetahuan
berdasarkan pada kesan yang agak abstraks pada rentang usia 4-7 tahun, 3) tahap
operasional konkret yaitu Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan
tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret dengan rentang usia 7
sampai 11 tahun, dan 4) tahap operasi formal yaitu anak sudah mampu berpikir
abstrak dan logis dengan menggunakan pola berpikir
"kemungkinan" dengan usia di atas 11 tahun.
Teori konstruktivisme secara garis besar menyatakan bahwa
pengetahuan dibentuk oleh pebelajar itu sendiri melalui aktivitas dalam
belajar. Anak tidak hanya menerima pengetahuan begitu saja, tapi melalui
berbagai proses. Anak harus melihat, memegang, mempelajari sesuatu sampai
diorganisasikan dalam pikirannya. Anak harus secara aktif belajar, bukan
diajar.
Berdasarkan kedua tersebut, kita bisa menyusun kegiatan
belajar yang sesuai usia anak dengan memperhatikan metode, media, termasuk
bagaimana kita bersikap sebagai fasilitator dalam proses belajar anak. Anak
balita masuk pada tahap praoperasional dimana anak harus belajar melalui benda
konkret. Misalnya ketika kita hendak mengenalkan kucing, minimal kita
menggunakan gambar, jangan hanya meminta anak membayangkan bentuk kucing, warna
rambutnya, banyaknya kumis, telinga, dan lain-lain. Akan lebih baik jika kita
mengajak anak melihat kucing, biarkan anak mengejar, mengelus, bahkan
menggendongnya. Dengan demikian anak paham bagaimana wujud kucing, bagaimana
lembut bulunya, berapa jumlah kakinya, apa warna rambunya, bentuk telinga,
bahkan bagaimana memperlakukannya agar kucing nyaman. Hal-hal ini pengetahuan
yang dipelajari melalui proses, bukan hanya diceritakan oleh orang dewasa dan
memita anak untuk menerimanya secara mentah. Proses inilah yang akan lebih kuat
mengakar pada pikiran anak.
Belajar adalah sebuah proses. Bagaimana anak
memandang sesuatu dan cara menginternalisasikan dalam pikiran adalah gaya
belajar. Setiap anak mempunyai gaya belajar berbeda-beda walaupun tumbuh di
lingkungan yang sama karena setiap anak itu unik. Mengingat setiap individu
memiliki keunikan tersendiri dan
Gaya
belajar masing-masing orang berbeda satu dengan yang lain, banyak ahli mencoba
menggunakan klasifikasi atau pengelompokan “Gaya Belajar” untuk memudahkan kita
dalam menyusun rencana belajar anak. Para ahli di bidang pendidikan mencoba
mengembangkan teori mengenai gaya belajar untuk mempermudah menemukan cara
belajar yang menyenangkan dan efktif. Belajar sendiri dipengaruhi oleh situasi
dan kondisi yang akan berdampak pada konsentrasi belajar. Hal tersebut akan
menghasilkan pengetahuan. Situasi dan kondisi untuk berkonsentrasi sangat
berhubungan dengan gaya belajar. Sehingga, ketika kita mengenali gaya belajar,
maka kita dapat mengelola pembelajaran pada kondisi apa, dimana, kapan dan
bagaimana cara pembelajaran yang baik dan efektif (Susilowati, 2013).
Kegiatan untuk
menstimulasi belajar efektif
Belajar bukan hanya tentang hasilnya yaitu
pengetahuan, tetapi proses belajar itu yang lebih penting. Mengajarkan anak
bagaimana cara belajar jauh lebih berharga dibanding hanya memberikan informasi
(Tim Fasilitator Bunda Sayang Batch 4, 2018). Proses belajar akan mengajarkan
anak untuk mencintai belajar, untuk terus belajar sepanjang hayatnya. Belajar
yang aktif adalah dengan aktif mencari, menginterpretasi, menganalisis, dan
menerapkan informasi. Hal yang paling penting adalah membentuk karakter sebagai
pebelajar.
Mas dan Adek tertarik dengan berbagai aktivitas
yang disuguhkan Nda. Sebagai pengamat, Nda melihat bahwa kedua anak paling
senang ketika Nda menyuguhkan aktivitas yang melibatkan berbagai macam indera.
Yang paling membuat mereka semangat adalah kegiatan “berburu serangga”.
Kegiatan ini melibatkan visual, auditori, dan kinestetik. Nda memberikan
worksheet berisi gambar serangga untuk dicentang jika mereka menemuinya. Mas
dan adek membentuk sebuah tim. Mas Ozi menjadi leader, memimpin dengan suara
tegas dan memandu adeknya kalau ketinggalan atau menemukan sesuatu. Mencentang
dan mengamati hewan yang ditemui. Berlari, berjalan, dan masuk ke semak untuk
mencari hewan.
 |
| Aktivitas yang paling disukai selama T10 level 4 |
T10 pada game level 4 kemarin memberikan
kesimpulan akhir bahwa Mas memiliki gaya belajar dominan kinestetik dan adek
dominan auditori. Namun keduanya tidak mutlak karena hamper setiap aktivitas,
ciri gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik muncul. Menurut Susilowati
(2013), gaya belajar pada anak usia dini adalah gaya belajar campuran. Sebenarnya
hampir semua anak didik (TK) memiliki gaya belajar campuran, sangat sedikit anak
yang memiliki hanya satu gaya belajar. Gaya belajar campuran adalah gaya
belajar dimana anak kadang bertipe auditorial sekaligus visual dan atau juga
kinestetik, atau hanya kinestetik dan visual. Ketika anak melakukan kegiatan
main, semua alat indra dan kinestetiknya akan dimanfaatkan secara maksimal.
Itulah sebabnya bermain merupakan kegiatan yang paling tepat diberikan pada
anak usia dini, karena di samping menyenangkan buat anak, juga akan
memaksimalkan pengindraan dan kinestetik anak, sehingga mampu memberikan
informasi pengetahuan sebanyak-banyaknya pada anak. Ketika Mas dan Adek bermain
dengan kucing atau Laron, maka indera akan banyak berperan. Mas dan adek akan
menggunakan penglihatannya untuk mengamati bentuk kuncing, warna rambutnya,
bentuk telinga, dan lain-lain. Anak akan mendengarkan suara meong kucing, dan
tahu ketika kita memanggil “pusss”, kucing akan mengeluarkan bunyi “meong”. Mas
dan adek juga bergerak mengejar kucing dan menggondongnya. Berbagai kegiatan
ini yang dapat memberikan pengetahuan baru pada mas dan adek tentang kucing.
Dengan demikian jika cara ini lebih anak senang dan proses konstruksi
pengetahuan lebih efektif maka kita bisa menggunakannya sebagai referensi cara
belajar dan memodifikasi untk pembelajaran selanjutnya.
Pada akhirnya kita sebagai orang tua harus
menjadi tangguh dan disiplin merancang kegiatan belajar anak sesuai usia dan
gaya belajarnya. Bagaimana kita membangun lingkungan belajar yang menyenangkan
dan memilih media yang tepat. Dengan harapan kita dapat membentuk anak dengan
karakter pebelajar sejati.
Kudus, 20 Desember 2018
Referensi:
Tim Fasilitator Bunda Sayang Batch 4. 2018. Menstimulasi Gaya Belajar Anak. Camilan
4.1 Kuliah Bunda Sayang.
Suparno, Paul. 2000. Teori
Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta : Kanisius.